Hari Senin (11 Agustus) kemarin akhirnya Saya jadi berangkat ke Yogyakarta juga. Tapi tujuannya bukan untuk jalan-jalan (meskipun akhirnya sempat juga ke Malioboro), melainkan untuk mengantar Adik Saya mendaftar kuliah di STEI Hamfara. Adik Saya yang punya nama Ali Haidar ini memang baru tahun ini lulus dari Madrasah Aliyah Maskumambang di Dukun, daerah asal Saya. Karena memang background pendidikannya bukan sekolah umum, maka adik Saya tidak mengikuti Seleksi Masuk ke PTN seperti yang saya lakoni 3 tahun lalu.
Oleh keluarga, terutama amanat orang tua, adik Saya memang sejatinya diharapkan untuk dapat menapaki jalan mendalami ilmu agama. Karena itu, setelah dinyatakan lulus Aliyah, adik Saya dan teman2 sekelasnya mendaftarkan diri di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) di Jakarta. Namun, persaingan untuk memasukinya memang sangat ketat. Tak hanya Alumni pondok Pesantren dari seluruh Indonesia saja yang berebut kursi kuliah di LIPIA ini, tapi juga calon mahasiswa dari luar negeri seperti Malaysia, Iran, dlsb. Adik Saya yang “hanya” lulusan pesantren (yang bisa dibilang) biasa, pun merasa minder dan kuatir tak mampu bersaing dengan lulusan Pondok Gontor atau bahkan dengan yang dari luar negeri. Hal lain, Kriteria utama seleksi adalah dalam hal penguasaan Bahasa Arab, yang menurut adik saya kurang dikuasainya.
Sebagai kakak, Saya pun ikut memikirkan nasib kelanjutan pendidikan adik Saya ini. Selama liburan ini, Saya sering pulang ke rumah untuk mendiskusikan hal ini dengan adik dan juga Ibu serta kakak Saya yang lain (Ayah Saya sudah meninggal). Dari diskusi, terungkap bahwa sebenarnya Adik Saya kurang bersemangat kuliah di bidang yang mempelajari Bahasa Arab sepeti di LIPIA. Dia justru ingin menghindari hal-hal yang berbau banyak bahasa Arab dan ingin mempelajari Ekonomi Syariah.
Menjalani sesuatu dengan hati yang tidak ikhlas tentu tidak mengenakkan, dan hasilnya sudah barang tentu juga tidak akan baik. Dari sini, Saya mulai mencari info Perguruan Tinggi yang sesuai dengan keinginan adik Saya. Info terakhir Saya dapatkan dari Teman SMA Saya yang bermukim di Gresik selama 3 tahun ini. Dia menginformasikan bahwa ada Sekolah Gratis di Jogja yang tujuannya mencetak Sarjana Ekonomi Syariah. Sekolah itu bernama STEI Hamfara. “Wah, info bagus ini… mungkin cocok buat adik Saya”, pikir Saya saat mendengar info itu pertama kali dari mulut Joko, teman saya itu.
Saya pun terus menggali info terkait STEI Hamfara ini. Setelah memvalidasi berita ini di internet dan menelpon langsung ke STEI Hamfara, Saya konsultasikan lagi dengan seluruh keluarga. Setelah disepakati, akhirnya berangkatlah Saya dan adik Saya pada hari Senin kemarin ke Yogyakarta. Dengan menumpang kereta Sancaka, kami meninggalkan Kota Surabaya pukul 15.00 dari stasiun Gubeng. Sehari sebelumnya, Saya telah menghubungi teman Saya di Jogja untuk mejemput Saya di Stasiun Tugu. Alhamdulillah, Agil, teman yang Saya kenal saat mengikuti RAKERNAS FKHMEI di Lampung Mei lalu, bersedia menjemput dan memberi kami tumpangan menginap untuk semalam. Beruntung, Kos Agil yang Mahasiswa UMY ini tak jauh dari Stasiun Tugu.
Sebenarnya ada juga teman sewaktu MI di Maskumambang dulu yang kini kuliah di UGM, tapi tempat kosnya cukup jauh sehingga cukup sulit untuk menjemput kami. Tidak apa, insya allah dia juga akan menemui kami di STEI Hamfara besok.
Setelah lebih dari 5 jam perjalanan, Jam 20.40 kami pun sampai di Stasiun Tugu. Tidak lama kemudian, Agil datang dengan mengendarai motornya menjemput kami. Alhamdulillah, Setengah jam setelah sampai di Jogja, kami sudah bisa berleha-leha di kosan Agil yang letaknya tak jauh dari Jalan Malioboro. Setelah sholat dan membersihkan diri, kami pun berbincang-bincang untuk membicarakan rencana kami selama seharian besok di Jogja. Dengan menunjukkan Peta Kota jogja yang dipunyainya, dengan telaten Agil menjelaskan seluk beluk wilayah Jogja yang sudah hampir dihapalnya. Maklum, Agil yang orang Jakarta ini sudah lebih sepuluh tahun menimba ilmu di Kota Gudeg. Setelah tamat dari mondok di Mu’allimin Jogja, Agil melanjutkan Pendidikan Tinggi di Univ Muhammadiyah Yogyakarta.
Malam pun terus berjalan. Sekitar pukul setengah dua belas malam, Joko mengirim sms, “aku sekarang dalam perjalanan ke Jogja, Yan. Naik Bis. Kakakku nyuruh aku daftar di Hamfara”. Kaget juga aku saat itu. Setengah tak percaya, Saya sms balik ke dia, “tunggu jam 12 malam, jangan tidur dulu, nanti tak telpon”. Kenapa menunggu jam 12 malam? Kebetulan Nomor Saya IM3 dan Nomor Joko juga IM3. Pada jam 00-05, nelpon dari IM3 ke seluruh nomor Indosat tarifnya hanya Rp 1 per Nelpon. Fantastis yak!!
Teng! Jam Dua Belas Malam. Setelah menanyakan keadaan masing-masing, Saya pun bertanya, “Lho, jok… lulusan tahun 2005 apa masih boleh? dulu Sampeyan bilang sudah tidak bisa?”. “Setelah tak tanyakan ternyata masih bisa, Yan..”, jawabnya. “karena itu, kakakku meminta aku untuk daftar kuliah di sana”, pungkasnya. “Oke, Sampai jumpa di STEI Hamfara besok. Maaf gak bisa jemput. Jadi sampeyan malam ini akan nginap dimana?”, tanyaku. “Mungkin malam ini aku akan menunggu di Terminal hingga pagi, Yan. Gak papa… Oke, Sampai besok… Assalamualaikum”, dan telpon kami putus.
Sewaktu SMA, Joko pernah dua kali satu kelas dengan Saya. Selain itu, Saya sangat dekat dengan Joko karena aktif sebagai pengurus REMAS di Masjid Sekolah. Bahkan, saat kelas 3 SMA kami malah satu kos. Sebenarnya Joko ini anak yang cerdas, tapi Sayang orang tuanya bukan termasuk orang yang mampu membiayai Pendidikan Joko. Saat SMA bahkan Joko harus berjuang sendiri membiayai sekolahnya. Saat lulus pun, Joko tak bisa membawa serta ijazahnya, karena masih nunggak pembayaran kelulusan. Baru beberapa bulan setelahnya, Joko bisa mengambilnya. Hingga 3 tahun bertahan hidup di Gresik setelah lulus SMA, Joko masih harus berjuang menghidupi diri dan terpaksa tidak kuliah, meski dia ingin dan Saya yakin dia bisa.
Selasa pagi, kami sarapan Gudeg, makanan khas Jogja yang dibeli Agil di tempat langganannya. Rasa Gudeg yang dominan cenderung manis memang kurang cocok dengan lidah Jawa Timur kami. Jam delapan, Saya dan adik berangkat ke STEI Hamfara dengan mengendarai motor Astrea milik Agil dan berbekal Peta Jogja. Alhamdulillah, letak STEI Hamfara di Jl Parangtritis cukup dekat dari Kosan Agil, sekitar 15 menit perjalanan dengan motor. Sesampai di STEI Hamfara, kami bertemu dengan Joko yang sudah lebih dulu sampai. Alhamdulillah, proses pendaftaran lancar dan tes tulis langsung dilaksanakan segera setelah Joko dan adik Saya mengisi formulir dan kuesioner. Tepat jam sembilan pagi, mereka berdua masuk ke ruang tes tulis.
Sambil menunggu mereka menyelesaikan tes tulis yang dijadwalkan selama satu setengah jam, Saya jalan2 keliling kota Jogja. Dengan bekal peta seadanya, Saya nekat naik motor sendiri muter Kota Jogja. Tujuan utamanya memang ke Stasiun Lempuyangan dan Stasiun Tugu, untuk melihat info jadwal dan tarif kereta menuju Surabaya untuk pulang. Kalau hari ini semua urusan sudah selesai ya langsung kembali. Kalau belum ya harus segera diselesaikan. Budget terbatas sih…
Jam setengah sebelas Saya kembali ke STEI Hamfara di Jl Parangtritis dengan melewati rute Jalan Malioboro. Sengaja saya lewati jalan legendaris di Kota Jogja ini, karena penasaran. Panjang dan juga ramai jalan ini. Hmmm… mungkin nanti Sore kalau sempat kami akan mampir jalan-jalan di Malioboro.
Saya sempatkan minum es dawet di pinggir jalan Parangtritis. Dahaga yang dari tadi meliputi tenggorokan sirna sudah, Alhamdulillah. Tiba di STEI Hamfara, tes tulis belum usai. Baru sekitar 11 lewat lima belas menit Joko dan adik Saya selesai mengerjakan tes tulis yang meliputi Pelajaran Bahasa indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Pengetahuan Ekonomi dan Agama Islam. Molor dari jadwal semula. 15 menit kemudian, mereka berdua pun masuk lagi untuk tes wawancara.
Adhan Dhuhur berkumandang. Ahdi, teman semasa kecil yang kini kuliah di UGM mengirim sms, “masih di STEI, yan? habis ini aku ke sana. ini baru selesai kuliah”. Ahdi yang kuliah di FE UGM ini memang sedang mengambil SP (Semester Pendek) untuk memperbaiki nilai-nilainya. Saat masih di MI dulu, Ahdi ini salah satu teman yang pandai, plus didukung juga oleh orang tuanya yang kaya. Dia sekarang masih semester 4, tertinggal satu tahun di bawahku, karena beberapa kali pindah sekolah.
Setelah Shalat Dhuhur di Masjid terdekat, aku kembali ke STEI dan mendapati Ahdi telah menunggu di depan. Hemm, anak yang delapan tahun lalu masih kelihatan childish ini sekarang sudah kelihatan lebih dewasa mengendari motor Supra-X. Ini adalah pertemuan yang kedua kalau bukan yang ketiga dalam delapan tahun ini. Setelah meninggalkan Maskumambang hingga sekarang memang kami jarang sekali bertemu muka. Kami pun masuk dan berbincang-bincang sambil menunggu pengumuman hasil tes.
Jam satu siang, hasilnya sudah keluar. Alhamdulillah, Joko dan adik Saya diterima. Daftar Ulang paling lambat dilakukan pada tanggal 15 Agustus, itu berarti 3 hari lagi. Kami harus pulang, karena harus mendapatkan tanda tangan orang tua, dan juga kami memang tidak membawa uang untuk persiapan daftar ulang. Kuliah di STEI Hamfara memang gratis, tapi mahasiswa wajib tinggal di Asrama, jadi harus membayar uang asrama dan juga biaya makan/catering per bulan. Total biaya yang harus dikeluarkan untuk daftar Ulang memang cukup besar, Rp 1.850.000,00.
Kami pun undur diri setelah menanyakan apa-apa yang diperlukan untuk daftar Ulang. Kami menuju ke Kosan Agil lagi. Di sana kami akan merencanakan apa yang akan kami lakukan selanjutnya.
Sampai di kosan Agil sekitar pukul 2 siang. Sambil menunggu Ashar, kami berencana akan jalan2 ke Malioboro nanti sore. Kami juga menyusun rencana untuk kembali ke Jogja untuk Daftar Ulang. Insya Allah hari Kamis adik Saya akan kembali ke Jogja, tapi mungkin Saya tidak akan turut serta. Insya Allah joko pun sependapat, Kamis akan kembali, karena Jumat adalah hari terakhir daftar ulang. Saya pun meminta Joko untuk bareng adik Saya nanti. Rencana selanjutnya belum kami bahas. Nanti insya Allah janjian berangkat lewat sms atau telpon.
Kami shalat Ashar di masjid dekat kosan Agil. Setelah shalat, kami makan nasi goreng di warung yang ada di jalan KS Tubun, jalan yang lebih terkenal dengan sebutan Jalan Pathuk, karena di jalan ini memang pusat makanan khas Yogya, Bakpia Pathuk. Selesai makan, sekitar jam empat lebih seperempat kami berempat ke malioboro. Saya membonceng adik Saya dengan motor Agil, Sedang Ahdi membonceng Joko dengan motornya. Agil memang sengaja memberi kami kesempatan jalan-jalan.
Satu jam lamanya kami menyusuri kedua sisi emperan kaki lima di sepanjang jalan Maliboro. Kaki saya yang memang masih sakit akibat operasi kecil 3 minggu lalu, terpaksa harus jalan dengan sedikit jinjit. Walhasil, jalan kaki sekitar 4 kilometer dengan jinjit, hasilnya: kaki kemeng, njarem, panas saking capeknya, kesel banget rek!. Fiuhhh…. Yah, palig tidak akhirnya rasa penasaran akan apa isinya malioboro pun sirna. Ternyata isinya ya gak jauh beda dengan PKL di mana pun. Isinya ya jualan berbagai macam pernak-pernik yang bagi aku sih gak begitu penting: gelang, cincin, dompet, sabuk, celana pendek, gandul kunci, berbagai kerajinan, kaos dagadu (pasti), batik, dan masih banyak lagi… hehe…
Menjelang magrib, kami kembali. Sampai di jalan pathuk, kami mampir dulu di masjid terdekat untuk menunaikan Shalat Magrib. Setelah Shalat magrib, kami menuju Pabrik pembuatan bakpia Pathuk 25 yang tak jauh dari masjid tempat kami shalat. Setelah puas membeli oleh-oleh khas Jogja, kami pun balik ke kosan Agil, tak jauh dari tempat ini. Oya, ada istilah KS yang kepanjangan dari Kendaraan Sendiri. Artinya, kami ke tempat ini dengan kendaraan sendiri, maka harga beli bakpia dipotong 3.000 rupiah. Jika diantar ojek atau Taksi, maka harganya lebih mahal karena penjual “merasa harus” memberi pengantar sebagai ucapan terima kasih. Jadi, mending minta antar teman kalau mau beli bakpia di sini.
Sampai juga di kosan Agil. Yosh… mandi lalu sholat Isya dan langsung packing lalu berangkat ke terminal Giwangan. Ya, Saya akhirnya memutuskan naik Bus Sumber Kencono dari Terminal Giwangan nanti malam. Jika naik kereta, kami masih harus menunggu hingga besok pagi. Terlalu lama.
Pukul delapan kurang, kami sudah sampai di halte Trans Jogja yang letaknya tepat di depan Benteng Vredeberg, dengan diantar bergantian oleh Ahdi dan Agil. Setelah menunggu cukup lama, Bus 3A yang akan kami tupangi pun tiba. Nyaman juga, dengan harga tiket 3000 rupiah. Ber-AC dan full music, juga aman dan nyaman. Tapi memang harus menunggu cukup lama, karena tak seperti TransJakarta yang memiliki jalur sendiri, jalur TransJogja memang sama dengan jalur angkutan lainnya, alias tidak ada jalur khusus.
Kami tiba di Terminal Giwangan tepat pada waktunya. Lima menit setelah kami naik Bus Sumber Kencono yang sedang ngetem, Bus pun berangkat. Meski masih sangat melompong, bus tetap melaju. “Sudah jadwalnya berangkat, mas..”, kata sang Kondektur yang berdiri di dekat Saya. Syukurlah, berarti tak perlu berdesakan dan kami bisa tidur nyenyak nanti. Yah, bisa tidur sih… tapi tak senyenyak yang kukira… lha supirnya ugal rek… gak peduli jalanan mulus atau bergelombang, teteup tancap gas. Jadinya ya loncat-loncat di tempat duduk.
Tujuh jam berlalu. Saya dan adik turun di Terminal Bungurasih, sedang Joko telah turun setengah jam sebelumnya di Mojokerto. Kami pun menuju pemberangkatan bus kota. Dengan menumpang bus Patas jurusan TP, kami menuju kontrakan kakak di Kampung Malang Utara. Tepat Pukul 4 dini hari, kami sampai di depan Gramedia Expo di jalan Basuki Rahmat Surabaya. Dari sana, kami berjalan kurang lebih sepuluh menit menuju rumah kontrakan kakak Saya.
Syukurlah. Akhirnya tiba dengan selamat di Surabaya.
Terima kasih kawan… Agil, Ahdi, Joko. Bantuan, kehangatan sambutan, dan juga doa kalian sungguh sangat berharga bagi kami. Jangan kapok saya kunjungi.
Well, thats just a piece of story of my travel to Jogja. Thanks for reading….

panjang yak,,, semoga ga kapok mbaca… trims buat yang sudi niggalin jejak dengan ngasih komen…
hahh..hahh.. ngos2an bacanya..
sbenernya tertarik baca karena BAKPIA PATHUKnya tuh!! hehe..piis.
my favorit cake! hmm..yummy..
minta alamat lengkap n no tlp Hamfara dong…
tertarik banget bisa kuliah di sana, ada batas usia atau lulusan gak? makasih bgt
assalaamu’alaikum
nama saya amru,terima kasih telah berbagi
kalo boleh,saya minta info lengkap tentang hamfara.
situs yang bisa dikunjungi,no.telp,dsb.
rencananya saya juga akan mendaftarkan adik saya
jazakillah
WOW …, Kuliah Gratis s/d Lulus ?
Mau Dong …, ada contak personnya nggak ? Yogyakarta, alamatnya di mana Kampus STEI HAMFARA ini ? Ayoo buruaaaan …, kapan lagi kuliah gratis !?
Gimana rasanya kuliah dihamfara?? hihihi
Saya mahasiswa STEI Hamfara semester 5 Prodi Keuangan
dan perbankan Syariah
STEI Hamfara memang pilihan yang tepat untuk generasi muda dari kalangan “ELIT” tetapi mempunyai semangat yang tinggi untuk merubah tatanan kehidupan dari kehidupan yang kapitalistis dan hedonistis menjadi kehidupan yang islamis di bawah panji-panji islam secara kaffah.
Semoga STEI Hamfara bisa mencetak generasi yang ideologis untuk menghadapi kaum imperialis baik yang berkedok islam maupun secara terang-terangan menentang islam.
Nice story Bro..
BTW,klo mau pesan bakpia gak usah jauh2 datang Ke Yogya..Pesan ditempat kami saja..hehehe,maaf numpang promosi
Nice story Bro..
BTW,klo mau pesan bakpia gak usah jauh2 datang Ke Yogya..Pesan ditempat kami saja..hehehe,maaf numpang promosi
waoooooo…… tertarik bget ak ada saudara pinter tp kasihan dia g kul krn ortunya g mampu, kalo punya info pendaftaran PMB HAMFARA kasih tahu dunk…..jazakillah
MPB yang 2008 tp,,, dia berambisi bget dapet kul….
buset, bnr2 makhluk yg suka cerita yakh kamu???
jogja…jogja…
gudeg aq gak begitu suka, bakpia juga gak suka
tp aq suka jln2, muter2, apalagi shoping2 d jogja
hehmmmm, asik……..
well, thanx by the way…
i’m still far from good in telling story though… but still,… thanx for ur comment…
Pingin bgt dpt info lengkap ttg STEI Hamfara,no kontak ato situsnya..Jzk sblmy
pi….ngin banget kul di STEI Hamfara, minta no. telp web-nya dong!!! cara ngedaftarnya gimana sih?
Subhanallah perjuanganny. . .
Ngmong2 sy jg tertarik utk mendaftar d STEI Hamfara.Bisa mnta infonya?
bagus..bagus..
saya juga di stei hamfara koq..
temen haidar..
hehehe..
Lho mas,katana g’ paKe tesT…………
tesT na apa aja,,,,,,,,
saYa caLon aNak hAmfara juGa……….
aquariuschacha03@gmail.com
ia malah ga s4 baca smuanya..
eh katanya pake tes seleksi y?
seleksinya gmana? pa ja?
aku juga lg bingung nie..
tertarik c…ke hamfara
salam.mas boleh minta nonya?saya pegen tanya2 tentang adiknya mz yg skrg dihamfara.coz adikq pengen aq masukkan disana juga.kirim via email yah,txu.
salam.maz boleh minta no’nya?mo tanya2 tentang adiknya yg kul dihamfara nech…gimana2 aja tuch,coz aq pengen masukin adikq disana.txu..kirim via email kalo gak keberatan.
Assalamuallaikum,maz leh mnta dta lengkap tentang hamfara ga?
Coz aq tertarik jga,
klo bsa krim ke defighter_21@yahoo.com y…
Sukron katsiran
assalamualaikum ana i2s ana mahasiswa UNIDA jurusan PAI smester 2 ana pengen bgt pindah kuliah di STEI Hamfara tpi gmana gtu coz ana pengen cari pengalaman gtu pa alagi sambil mondok gtu kyanya seru tuch
kalo mau masuk hamfara daftar aja langsung, atau datang langsung ke jogja. Ni nomorqu 085643246206. kalo ada gratisan telpon sempatin aja telpon saya.
Sukron, Smoga bermanfaat
saya tertarik dengan STIE hamfara. karena melihat sosok pak dwi. ketika menjadi pembicara di seminar UNESA 9 mei kemarin,
padahal saya sudah kuliah. dan masih di semester 2. apakah ada yg s2 ya?
apa ada batasan umur?
LIPIA?
walah,temen saya lumayan banyak disana. malah sohib tulen saya juga disana?
deket pejaten sana kan ya?
dulu jaman masih di Pondok, saya juga ada niatan kesana. Tapi gatau knapa saya malah lari ke SMA Negeri. yah dari pelarian itu akhirnya saya bisa masuk ITS.
Walloohua’lam.
ada brosurnya g ttg STIE HAMFARA? klo ada d scan trus email sy apayz13@yahoo.com
tertarik juga tuh kuliah d STIE HAMFARA, skalian sama alamat jelasnya yaa?
trims
tenks infox……
leh mnta info lbih lngkap g………….?
hamfara kren bgt…