Penilaian sekejap

Blink, karya Malcolm Gladwell

Blink, karya Malcolm Gladwell

Pepatah mengatakan “jangan menilai buku hanya dari sampulnya”. Artinya kurang lebih kita harus membuka isi buku dan memahami lebih dalam isinya. Setelah sekian lama dan intens kita berusaha memahami seseorang, maka dari sanalah kita bisa atau boleh menilai apakah seseorang baik ataukah sebaliknya.

Namun ada kasus tertentu di mana kita kadang langsung atau begitu saja bisa menilai ketika seseorang atau sesuatu itu bersifat jahat. Atau, di waktu lain kita bisa saja dengan cepat menilai suatu aksi atau keputusan itu akan berakibat tertentu. Seakan Anda mendapatkan firasat, seperti yang banyak orang bilang. Dan Anda merasa saat itu Anda harus mempercayainya. Saya yakin Anda sekalian pernah mengalaminya.


Bayangkan Anda melihat sebuah laptop dan hanya dengan mengamatinya sekilas serta mencoba memakainya beberapa saat, Anda dapat menilai apakah laptop tersebut bagus atau tidak. Atau mungkin Anda mengenal seseorang yang mengaku mampu menilai apakah seseorang itu bohong atau tidak hanya dengan mengamati cara bicaranya.

Anehnya, ketika kita atau siapapun melakukan hal itu (penilaian sekejap), seringkali kita tak sadar dan ketika kita memikirkannya kembali, alasan-alasannya mungkin banyak yang tidak masuk akal. Atau bisa dibilang, kita tak bisa menjelaskannya secara jelas dan jujur.

Dalam buku Blink: Kemampuan Berpikir tanpa Berpikir, karya Malcolm Gladwell hal ini diungkap tuntas. Bagaimana otak kita secara tak sadar seringkali membantu kita untuk melakukan penilaian sekejap agar kita tetap bertahan hidup. Hal ini bisa kita peroleh juga dengan pengalaman, hasil latihan dan hasil belajar. Namun penilaian sekejap ini juga bisa berakibat fatal jika kita salah memahami dan menggunakannya.

Kemarin Saya menonton (setengah selesai, meski sudah sampai endingnya) film War Horse, besutan Sutradara kondang Cak Stephen Spielberg. Film ini berkisah tentang seekor kuda “hebat” milik seorang remaja bernama Albert pada masa sebelum dan semasa Perang Dunia I. Kuda ini dibeli oleh ayahnya dalam sebuah pelelangan dengan harga yang tinggi. Meski orang-orang melihat kuda ini sebagai kuda yang ringkih dan tidak akan bertahan untuk digunakan sebagai pembajak di ladang, namun Ayah Albert yakin dengan pandangannya bahwa kuda ini akan jadi kuda yang kuat dan berguna di ladangnya.

Anehnya, Ayah Albert bahkan bingung kenapa dia memilihnya. Dia hanya percaya dengan pandangan mata pertamanya bahwa kuda ini akan jadi kuda yang kuat dan handal.

Alkisah, kuda yang diberi nama oleh Albert dengan panggilan Joey ini kemudian terbawa oleh takdir menjadi kuda perang. Joey terjebak dalam pusaran Perang Dunia antara Inggris dan Jerman, yang membawanya ke beberapa pemilik sementara, dengan masing-masing kisahnya.Joey terbukti menjadi kuda yang kuat, berlari cepat dan tangguh di medan perang.

Akhir kisahnya sangat menyentuh, di mana Joey akhirnya bisa bertemu kembali dengan pemiliknya, Albert di masa akhir Perang Dunia I. Joey lalu dibawa pulang kembali ke kampung halaman Albert di Devon, Inggris.

Kisah di atas memang cukup unik, mengisahkan kisah hidup seekor kuda perang yang tangguh. Namun bukan itu yang Saya coba sampaikan. Saya menekankan pada kisah di mana ayah Albert membeli Joey dengan penilaian sekejap yang diambilnya.

Hmmm.. sounds interesting? Silahkan baca bukunya atau juga lihat film-nya… have a nice day:)

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Bahan Bacaan, Catatan Harian, Mencari Jati Diri

Silahkan Tinggalkan Komentar...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s